Diriwayatkan bahwa Abdullah ibn Mas’ud RA melewati wilayah Kufah. Di tengah perjalanan, sahabat Nabi Muhammad SAW itu melihat beberapa orang pemuda yang sedang duduk-duduk dan bermabuk-mabukan. Di antara mereka adalah Zadzan al Kindi (seorang artis) yang mampu memainkan alat musik dan melantunkan lagu-lagu. Suaranya sangat merdu dan syahdu.
Abdullah ibn Mas’ud tertegun. Sambil melewati sekumpulan pemuda itu, Abdullah berkata, “Alangkah indahnya suara itu seandainya dipergunakan untuk membaca Al Qur’an.”
Tak dinanya, perkataan Abdullah itu didengan Zadzan. Ia pun berdiri dan mengambil sebatang kayu lalu dipukulkannya ke bumi kuat-kuat sehingga batang kayu itu patah. Setelah itu, ia segera menemui Abdullah ibn Mas’ud sambil menangis. Maka, Abdullah pun merangkulnya dan keduanya sama-sama menangis.
“Aku pantas menangis di hadapan orang yang dicintai Allah,” kata Abdullah kepada Zadzan.
Sejak peristiwa itu, Zadzan al Kindi memutuskan berguru pada Abdullah untuk mempelajari Al Qur’an. Di akhir hayatnya, Zadzan yang tergolong artis itu termasuk seorang tabiin yang banyak meriwayatkan hadis Nabi Muhammad dari Abdullah ibn Mas’ud.
Demikian sepenggal kisah Zadzan al Kindi sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Qudamah al Maqdisy dalam Mukhtasharu Kitab al Tawabin. Semoga bulan Ramadhan, bulan diturunkannya kitab suci Al Qur’an, kita bisa menyambutnya dengan hati dan pikiran suci, agar meraih Lailatul Qadar, malam nana gung yang sanggup menerangi jalan hidup kita. Kita mohon perlindungan pada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang mengunci pintu hatinya dari kehadiran cahaya Illahi. “Apakah mereka tidak memerhatikan, ataukah hati mereka telah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu, jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS Muhammad [47], ayat 24-25).
Orang yang mengunci atau menutup hatinya adalah pangkal dari kufur, yang keduanya memiliki makna sama, yaitu mereka yang menutup dan berpaling dari cahaya kebenaran Illahi. Mengingat hati (qalb) memiliki sifat labil, bolak-balik, maka seorang mukmin senantiasa diajarkan untuk berta’awudh, mohon perlindungan pada Allah dari bisikan dan godaan setan. Lebih dari itu, siapapun yang senantiasa membaca Alquran dan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, insya Allah hati kita akan selalu tersambung untuk menerima cahaya kasih dan hidayahNya.
Abdullah ibn Mas’ud tertegun. Sambil melewati sekumpulan pemuda itu, Abdullah berkata, “Alangkah indahnya suara itu seandainya dipergunakan untuk membaca Al Qur’an.”
Tak dinanya, perkataan Abdullah itu didengan Zadzan. Ia pun berdiri dan mengambil sebatang kayu lalu dipukulkannya ke bumi kuat-kuat sehingga batang kayu itu patah. Setelah itu, ia segera menemui Abdullah ibn Mas’ud sambil menangis. Maka, Abdullah pun merangkulnya dan keduanya sama-sama menangis.
“Aku pantas menangis di hadapan orang yang dicintai Allah,” kata Abdullah kepada Zadzan.
Sejak peristiwa itu, Zadzan al Kindi memutuskan berguru pada Abdullah untuk mempelajari Al Qur’an. Di akhir hayatnya, Zadzan yang tergolong artis itu termasuk seorang tabiin yang banyak meriwayatkan hadis Nabi Muhammad dari Abdullah ibn Mas’ud.
Demikian sepenggal kisah Zadzan al Kindi sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Qudamah al Maqdisy dalam Mukhtasharu Kitab al Tawabin. Semoga bulan Ramadhan, bulan diturunkannya kitab suci Al Qur’an, kita bisa menyambutnya dengan hati dan pikiran suci, agar meraih Lailatul Qadar, malam nana gung yang sanggup menerangi jalan hidup kita. Kita mohon perlindungan pada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang mengunci pintu hatinya dari kehadiran cahaya Illahi. “Apakah mereka tidak memerhatikan, ataukah hati mereka telah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu, jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS Muhammad [47], ayat 24-25).
Orang yang mengunci atau menutup hatinya adalah pangkal dari kufur, yang keduanya memiliki makna sama, yaitu mereka yang menutup dan berpaling dari cahaya kebenaran Illahi. Mengingat hati (qalb) memiliki sifat labil, bolak-balik, maka seorang mukmin senantiasa diajarkan untuk berta’awudh, mohon perlindungan pada Allah dari bisikan dan godaan setan. Lebih dari itu, siapapun yang senantiasa membaca Alquran dan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, insya Allah hati kita akan selalu tersambung untuk menerima cahaya kasih dan hidayahNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar